Langsung ke konten utama
PANJAT PINANG
Panjat pinang
Ada satu hal penting: cerita bahwa panjat pinang sejak awal sengaja diciptakan Belanda sebagai penghinaan terhadap pribumi perlu diberi nuansa. Sumber sejarah cukup kuat untuk menunjukkan bahwa permainan memanjat tiang memang digunakan sebagai hiburan pada masa kolonial dan pesertanya umumnya pribumi, sementara orang Belanda menjadi penonton. Namun, bukti yang tersedia tidak cukup untuk memastikan bahwa sejak awal tujuan resminya adalah “menghina pribumi.”
Kronologinya kira-kira begini:
1. Masa kolonial Hindia Belanda.
Pada masa penjajahan, permainan memanjat tiang dikenal di lingkungan kolonial sebagai de klimmast—secara sederhana berarti “memanjat tiang”. Permainan ini muncul dalam berbagai pesta dan perayaan, termasuk pesta keluarga, perkawinan, kenaikan jabatan, dan perayaan Koninginnedag, hari ulang tahun Ratu Wilhelmina pada 31 Agustus.
2. Tiang dibuat licin dan hadiah diletakkan di atas.
Batang pinang atau tiang dilumuri bahan pelicin sehingga sangat sulit dipanjat. Di bagian atas diletakkan berbagai hadiah. Menurut sumber sejarah populer, hadiah tersebut antara lain makanan dan barang kebutuhan yang bernilai bagi masyarakat pribumi.
3. Pribumi menjadi peserta, orang Belanda menjadi penonton.
Di sinilah sisi kolonialnya terasa sangat kuat.
Orang-orang pribumi yang berada dalam kondisi ekonomi jauh lebih rendah daripada kaum kolonial berusaha memanjat tiang licin untuk memperoleh hadiah. Sementara itu, orang-orang Belanda yang menyelenggarakan pesta menonton dari bawah sebagai hiburan. Sejarawan dan sumber yang mengutip buku Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal menggambarkan orang Belanda tertawa menyaksikan perjuangan peserta pribumi.
Jadi, kalau kita melihatnya dari perspektif masyarakat yang dijajah, memang ada ketimpangan kelas dan kolonial yang membuat permainan tersebut dapat terasa merendahkan: yang satu mempunyai kekuasaan dan kemewahan, sedangkan yang lain harus bersusah payah memperebutkan barang yang berharga bagi mereka.
4. Setelah Indonesia merdeka, maknanya berubah.
Yang menarik justru terjadi setelah 1945.
Masyarakat Indonesia tidak mempertahankan makna kolonialnya. Panjat pinang kemudian dimasukkan ke dalam berbagai perayaan 17 Agustus. Tiang yang dahulu menjadi tontonan kolonial berubah menjadi simbol tantangan yang harus ditaklukkan bersama.
Orang yang berada di bawah membantu yang lain naik. Yang sudah sampai atas membantu yang berikutnya. Hadiah akhirnya dinikmati bersama.
Dengan demikian, maknanya mengalami pembalikan:
Dahulu: rakyat pribumi menjadi tontonan dalam struktur kolonial.
Sekarang: rakyat Indonesia menjadikan permainan itu sebagai tontonan dan perayaan kemerdekaan.
Dan di sinilah sejarahnya menjadi menarik. Sebuah permainan yang pernah berada dalam suasana ketimpangan kolonial justru diambil kembali oleh masyarakat Indonesia dan diberi makna baru: gotong royong, perjuangan, persatuan, dan usaha mencapai sesuatu bersama-sama.
Jadi saya akan berhati-hati menyebutnya sebagai “permainan yang digunakan sebagai hiburan kolonial dan berlangsung dalam hubungan yang merendahkan pribumi”, daripada menyatakan secara pasti bahwa Belanda menciptakannya khusus sebagai alat penghinaan. Ada dasar sejarah untuk yang pertama; klaim mengenai niat penghinaan yang disengaja membutuhkan bukti yang lebih spesifik.
Jejak panjat pinang pada masa kolonial.
Pada masa Hindia Belanda, permainan memanjat tiang dikenal sebagai de klimmast (“memanjat tiang”). Permainan semacam ini digunakan dalam berbagai perayaan, termasuk Koninginnedag, perayaan ulang tahun Ratu Wilhelmina pada 31 Agustus. Ada pula catatan bahwa permainan tersebut dipakai dalam pesta perkawinan atau perayaan kenaikan jabatan.
Gambaran permainannya kurang lebih seperti yang kita kenal sekarang: tiang dibuat licin, hadiah diletakkan di atas, kemudian peserta berusaha mencapai puncaknya. Dalam konteks Hindia Belanda, sumber-sumber populer mencatat bahwa peserta pribumi memperebutkan barang-barang seperti beras, gula, tepung, roti, pakaian, dan kebutuhan lainnya—barang yang jauh lebih berarti bagi rakyat miskin dibanding bagi kalangan kolonial.
Di sinilah muncul sisi yang pahit.
Orang pribumi bersusah payah mendapatkan kebutuhan hidup, sedangkan orang Belanda dapat berada pada posisi sebagai penonton. Beberapa sumber sejarah populer bahkan menggambarkan orang Belanda tertawa melihat peserta yang jatuh atau gagal.
Tetapi kita perlu hati-hati mengatakan bahwa “Belanda menciptakan panjat pinang khusus untuk menghina pribumi.” Bukti sejarah yang tersedia tidak cukup kuat untuk memastikan niat tunggal tersebut. Bahkan sumber yang membahas sejarahnya sendiri mengakui bahwa dokumentasi lengkap mengenai asal-usul panjat pinang masih terbatas.
Lalu terjadi perubahan besar setelah 1945.
Setelah Indonesia merdeka, permainan itu tidak lagi berada dalam kerangka perayaan kekuasaan kolonial. Masyarakat Indonesia memasukkannya ke dalam perayaan 17 Agustus.
Dan menariknya, maknanya seperti dibalik.
Dulu: satu orang berusaha naik → yang lain menjadi penonton.
Sekarang: yang satu menjadi pijakan bagi yang lain → semua bekerja untuk mencapai puncak.
Karena itu, dalam perayaan kemerdekaan, panjat pinang kemudian dibaca sebagai gotong royong, persatuan, perjuangan, dan cita-cita bersama. ANTARA juga menggambarkan perubahan itu sebagai proses “mengindonesiakan” kembali tradisi tersebut.
Jadi ada ironi sejarah yang sangat menarik:
Sesuatu yang pernah dimainkan dalam masyarakat kolonial kemudian direbut kembali maknanya oleh masyarakat yang merdeka.
Batang yang licin bisa dibaca sebagai jalan perjuangan.
Orang yang berada di bawah menjadi penopang.
Orang yang di atas bukan pahlawan sendirian, karena ia tidak mungkin sampai tanpa tubuh dan tenaga orang-orang di bawahnya.
Dengan demikian, kalau kita ingin membaca panjat pinang secara lebih dalam, pertanyaannya bukan hanya “apakah ini warisan Belanda?”, tetapi:
“Apakah bangsa yang merdeka boleh mengambil sebuah simbol dari masa penjajahan, lalu mengubah maknanya menjadi miliknya sendiri?”
Ya, boleh. Bahkan secara sejarah dan kebudayaan, sebuah bangsa yang merdeka tidak harus membuang semua hal yang pernah muncul pada masa penjajahan. Yang penting adalah siapa yang menentukan maknanya dan untuk tujuan apa simbol itu digunakan.
Dalam kasus panjat pinang, ada dua lapisan yang perlu dibedakan:
1. Asal atau konteks kolonialnya — permainan itu memang pernah hadir dalam perayaan kolonial dan berlangsung dalam hubungan sosial yang timpang.
2. Makna setelah kemerdekaan — masyarakat Indonesia menggunakannya dalam perayaan 17 Agustus dan memberinya makna baru: gotong royong, persatuan, perjuangan, dan kemenangan bersama.
Jadi, mengambil kembali sebuah simbol tidak berarti menerima penghinaan masa lalunya.
Justru bisa terjadi semacam pembalikan makna:
> Dulu rakyat dipertontonkan.
Sekarang rakyat merayakan.
Dulu hadiah menjadi daya tarik bagi orang yang berada dalam kesulitan.
Sekarang perjuangan mencapai hadiah menjadi permainan bersama.
Dulu berada dalam suasana penjajahan.
Sekarang menjadi bagian dari perayaan kemerdekaan.
Namun ada satu pertanyaan yang lebih dalam: apakah kita masih membawa makna lama tanpa menyadarinya?
Itulah yang menurut saya menarik untuk direnungkan. Kemerdekaan bukan hanya mengganti siapa yang berkuasa, tetapi juga kemampuan sebuah bangsa untuk menentukan sendiri arti dari simbol, tradisi, pikiran, dan kehidupannya.
Dengan kata lain:
penjajah bisa meninggalkan benda dan tradisi, tetapi tidak seharusnya meninggalkan cara berpikirnya di dalam diri bangsa yang telah merdeka.Ini semua tak penting tapi nan penting itu adolah :
Masalah nan sabana bukanlah panjek pinang. Panjek pinang bisa diperdebatkan asal-usulnyo, tapi itu bukan persoalan terbesar urang Minang kini, khususnyo Jampuang kito.
Nan lebih penting adalah anak kamanakan kito: bagaimana mereka tumbuh, apa nan mereka teladan, dan ke mano arah hidup mereka.
Kalau ado nan narkoba, maliang lado, maliang pisang, mabuk, atau perilaku nan merusak diri dan kampuang, di sinilah perhatian urang tuo, ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai, dan masyarakat sangat dibutuhkan.
Jangan sampai kita sibuk membongkar simbol masa lalu, sementara anak kamanakan di hadapan mata kehilangan pegangan.
Kalau memakai bahasa nan sederhana:
> Nan perlu dipanjek bukan batang pinangnyo, tapi marwah anak kamanakan nan sedang jatuh.
Nan perlu ditegakkan bukan tiang permainan, tapi tiang adat, agama, akhlak, dan tanggung jawab.
Dan menurut pangatahuan , pendekatan nan paling kuat bukan hanya menghukum. Tegas terhadap perbuatan nan salah, tetapi tetap merangkul orangnyo untuk kembali( salah satunyo perayaan 17 Agus Jo acara panjek pinang). Anak kamanakan nan sudah tersalah jalan jangan sampai dianggap selesai sebagai manusia.
Karena kalau kita benar-benar bicara tentang warisan nan murni dari Allah SWT, maka salah satu amanah terbesar adalah menjaga generasi sesudah kita agar tidak kehilangan cahaya petunjuk ( Iko hakikat dari warisan untuak urang laki laki di Minang kabau ,tamasuak Nagori Kito).
Semoga bermanfaat .
Komentar
Posting Komentar